Bersikap Hati-Hati Adalah Jalan Menuju Kebahagiaan

Diceritakan bahwa Thaha Husein, seorang penulis buku terkenal, berkata kepada sopirnya, “Jangan mengendarai mobil ini terlalu cepat, agar lebih cepat sampai ke tempat tujuan.” Ini merupakan terjemahan praktis dari sebuah peribahasa yang berbunyi : “Terburu-buru itu justru sering menciptakan kelambanan.”

Bersikap hati-hati dan berusaha yang disertai dengan tawakal kepada Allah merupakan salah satu jalan menuju kebahagiaan. Rasulullah sendiri ketika turun ke medan perang, masih harus mengenakan baju perang. Padahal kita tahu bahwa beliau adalah yang terbaik di antara orang-orang yang bertawakal. Ini memperlihatkan kepada kita bahwa Rasulullah adalah sosok yang hati-hati dan jauh dari sikap takabur, walaupun beliau tahu bahwa dirinya akan dilindungi oleh Allah. Sehingga ada seorang sahabat yang bertanya kepadanya, “Apakah saya harus mengikat unta saya, wahai Rasulullah, atau harus bertawakal saja?” Rasulullah menjawab, “Ikatlah untamu, dan bertawakallah.”

Sebenarnya hal ini adalah biasa dan bisa kita laksanakan, terutama bagi orang-orang yang sudah memiliki pemahaman yang memamdai tentang syariat dan tauhid. Karena dengan memahami syariat dengan benar maka kita tahu bagaimana prosedur yang benar dalam berjihad yang sesuai dengan ajaran Islam. Demikian juga halnya, bahwa dengan memahami tauhid yang benar, maka segala apapun yang ingin kita capai dalam usaha kita adalah kewenangan Allah yang menentukan hasilnya. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa, sementara mengenai hasilnya kita pasrahkan kepada Allah yaitu bertawakal kepada-Nya.

Berusaha dan bertawakal kepada Allah adalah prinsip tauhid. Meninggalkan usaha dan hanya bertawakal kepada Allah adalah sebuah kekeliruan dalam memahami syariat. Sedangkan berusaha saja tanpa tawakal kepada Allah adalah kekeliruan dalam memahami tauhid.(La Thazan, hal 285)

Mengenai hal ini (tawakal) ada banyak kisah tentunya yang bisa kita kemukakan di sini, seperti misalnya Ibnul Jauzi bercerita tentang seorang laki-laki yang sedang memotong kukunya. Karena tidak hati-hati maka ia memotong jarinya, lalu mati.

Suatu ketika juga, ada seseorang masuk kandang keledai Sardan. Karena tidak hati-hati maka ia diseruduk oleh keledai itu, dan langsung meninggal.

Seorang penyair berkata, “Orang yang berhati-hati akan berhasil mendapatkan keinginannya, sedangkan yang terburu-buru mungkin akan jatuh tergelincir.”

Berhati-hati sama sekali tidak berarti menentang qadar. Berhati-hati justru merupakan bagian dari qadar itu, dan bahkan inti dari qadar tersebut.

Firman Allah, “Berlaku lemah lembutlah.” (QS.Al-Kahfi :19)

“Dan,Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan.” (QS.An-Nahl :81)

Dikutip dari berbagai sumber

Iklan

Ukir jejak sahabat di sini

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s