Arti Cinta Harta

Tulisan ini disarikan dari beberapa literatur Islami yang membahas berbagai hal yang berkaitan dengan harta dan kewajiban menafkahkannya sebagian di jalan Allah, yakni kepada orang-orang yang telah ditentukan menurut ajaran agama Islam. Sebagaimana fiman Allah swt yang artinya, “Bukanlah menghadapkan wajah kalian ke timur dan barat itu adalah kebajikan, akan tetapi kebajikan itu adalah  beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikan-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, orang yang meminta-minta dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat.” (Surat Al Baqarah 177)

Janganlah membelanjakan harta untuk mencari popularitas dan penghargaan dari manusia.  Karena jika itu yang menjadi niat dalam membelanjakan harta maka pastilah amalan itu akan sia-sia. Rasulullah saw bersabda, bahwa Allah tidak melihat rupa dan hartamu, atau dengan kata lain bahwa yang dilihat  bukan seberapa banyak harta yang disedekahkan, tetapi amal dan hati, yakni bagaimana niat dan tujuan dalam membelanjakan harta itu.

Dalam sabda beliau yang lain, “Yang aku takutkan kepada diri kalian adalah syirik kecil, Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu ya Rasulullah? “Jawab beliau, “Beramal untuk diperlihatkan”.

Dalam sabdanya yang lain Rasulullah juga menyatakan, “Bahwasanya sedekah yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi itu menghilangkan atau memadamkan kemurkaan Allah, dan silaturrahmi itu dapat menambahkan umur, perbuatan-perbuatan baik itu menjaga kita dari  jurang-jurang kejahatan, dan ucapan “Laa Ilaha illallaah” itu dapat menghindarkan pengucapnya dari sembilan puluh sembilan pintu bahaya, di mana yang paling ringan di antaranya ialah kesusahan.” (HR Ibn ‘Asakir dari Ibnu Abbas)

Diriwayatkan bahwa ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan mencintai harta, karena setiap orang pasti mencintai?”. Jawab Rasul, “Ketika engkau membelanjakan harta, ketika engkau ingat akan berbagai keperluanmu, kemudian muncul dalam hatimu kekhawatiran-kekhawatiran akan keperluan-keperluanmu itu, kemudian dalam hatimu mengatakan, sesungguhnya umurku masih panjang, jangan-jangan nanti aku memerlukannya.” Inilah yang dimaksud oleh beliau saw orang-orang yang mencintai harta.

Jadi, dapat disimpulkan di sini bahwa mencintai harta itu boleh-boleh saja berupa merawat, menjaga dan menggunakannya, karena memang memperolehnya dengan susah payah, asalkan jangan sampai menjadi tidak ikhlas ketika kita membelanjakannya di jalan Allah atau menafkahkannya kepada orang-orang yang telah ditetapkan oleh Allah untuk menerimanya. Karena sadarilah bahwa, sesungguhnya harta kita yang akan tetap tersimpan dan bahkan akan terus bertambah bunga-berbunga adalah harta yang kita keluarkan di jalan Allah dalam bentuk zakat, infaq dan sedekah itu dan akan kita lihat dan nikmati nanti di akhirat kelak .Sedangkan harta  yang tidak atau belum kita belanjakan di jalan Allah itu pada hakikatnya bukan milik kita sampai ia dibelanjakan di jalan Allah..wallaahu ‘alam.

Iklan

Ukir jejak sahabat di sini

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s