Raihlah Rasa Aman dan Tenteram di Sini

Shalat, sebagimana disyariatkan oleh Islam, bukanlah sekedar hubungan ruhani.Shalat dengan adzan dan iqamat, dan peraturannya, di masjid-masjid atau di rumah-rumah, dengan kebersihan dan suci, dengan penampilan yang rapi, menghadap ke arah kiblat, dengan ketentuan waktunya dan kewajiban-kewajiban lain seperti tilawah, bacaan, gerakan, yang dimulai dengan takbir dan diakhir dengan salam, semuanya pasti memiliki nilai.Lebih dari sekedar rutinitas ibadah. Shalat merupakan sistem hidup, cara pembinaan dan pendidikan yang sempurna, yang meliputi kebutuhan fisik, akal dan hati. Itulah sebabnya Rasulullah saw, jika ditimpa sesuatu persoalan atau mengharap sesuatu, ia bergegas melakukan shalat.(HR.Ahmad)

Perumpamaan untuk kondisi seseorang di dalam shalat, menurut Ibnul Qoyyim rahimahullah, ada dua. Pertama, seperti orang yang memasuki sebuah gedung istana raja.

Tapi antara dirinya dan pemilik istana terhalang hijab. Dia terhalang oleh pembatas dan karenanya ia tidak bisa melemparkan pandangannya ke arah pemilik istana dan tidak dapat melihatnya. Hijab yang menghalanginya itu adalah awan syahwatnya, asap jiwanya, kepulan keinginannya. Karenanya, hati menjadi ternoda, jiwanya terbelenggu dengan apa yang diinginkannya, dan menuntut segera dipenuhi jatahnya. Orang yang mengalami situasi seperti itu, menurut Ibnul Qoyyim, tidakmelakukan shalat kecuali dalam siatusi ketidakjelasan, dan akibatnya ia tidak mendapatkan istirahat saat shalat. Tidak ada kerinduan dan tidak ada rasa ketakutan atas siksa Allah swt, sampai kesejukan pandangannya tidak dipenuhi oleh keinginan nafsu duniawinya.

Kelompok kedua, seperti orang yang memasuki sebuah istana raja. Dibuka dihadapanya penghalang sehingga ia bisa merasakan kenikmatan dengan berdiri, berhidmat dan mentaatinya. Raja memberinya hadiah bermacam-macam, setidaknya perasaan nikmat berada di dekat raja. Karenanya, ia tak ingin segera berpaling dari situasi itu. Perasaan nikmat dan kesejukan pandangan matanya, serta penerimaan raja kepadanya. Ia terus menerus mengajukan munajat. Lalu ia memperoleh hadiah dari berbagai sisi. Seperti itulah orang yang melakukan shalat dengan jiwa dan hati yang khusyu’. Merasakan kebahagiaan dan peristirahatan saat menghamba kepada Allah swt. Ia seperti melihat Allah, sehingga sehingga mengucapkan perkataan dengan penuh hormat dan khidmat. Dan yang paling berat baginya adalah jika ia harus menyudahi pertemuannya dengan Allah swt.

Shalat menyimpan kenyamanan, ketenteraman,dan kebahagiaan. Karena shalat seluruhnya berisi dzikir dan do’a. Dzikir dan do’a pasti memberi warna terang dalam batin yang akan tertuang lewat kejernihan berpikir dan kelapangan dalam menyikapi berbagai persoalan. Jika kita ingin kebahagiaan, ketenteraman, kejernihan mata, mari berdiri menghadapkan diri ke kiblat untuk shalat..@

https://twitter.com/MTLovenHoney/status/471487637069385729

Iklan

Ukir jejak sahabat di sini

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s