Di sinilah Posisi Terdekat Kita Dengan Allah

Shalat adalah medium yang menghubungkan kita dengan Sang Pencipta, Allah Swt. Kala kita berdiri dalam shalat, tandanya kita tengah menghadap Allah Swt, dengan mengucapkan lafadz-lafadz dzikir dan do’a sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah saw dalam shalat. Karenanya, shalat bukanlah sekedar aktivitas fisik tanpa aktivitas batin. Shalat harus dilakukan dengan penuh kesadaran, kerendahan hati, penuh kesadaran akan pengawasan dari Allah swt.

Perhatikanlah bagaimana dialog yang terjadi antara seorang hamba yang melakukan shalat dengan Allah Swt. Rasulullah saw bersabda, “Allah Swt berfirman, “Aku membagi shalat dua bagian antara Aku dan hamba-Ku. Buat hamba-Ku apa yang dia minta. Bila dia membaca, “Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin”, Allah berfirman, Hamba-Ku telah memuji-Ku. Bila ia membaca , “Ar Rahmaanir Rahiim”, Allah berfirman, hamba-Ku menyanjung-Ku. Bila ia mengatakan, “Maaliki yaumiddiin.” Allah berfirman, hamba-ku mengagungkan-Ku. Bila ia membaca, “Iyya ka na’budu wa iyya ka nasta’iin.” Allah berfirman, Ini antara Aku dan hamba-Ku. Bagi hamba-Ku apa yang dia minta. Bila ia membaca, “Ihdinas shiratal mustaqiim. Shiraatal ladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghduubi ‘alaihim wa laadhaalliin.” Allah berfirman, “Ini untuk hamba-Ku dan buat hamba-Ku apa yang dia minta.”(HR.Muslim) Banyak sekali ulama menguraikan hikmah di balik berbagai gerakan shalat dan kaitannya dengan kondisi batin orang yang melakukannya dengan baik dan benar. Dalam shalat, ada suatu amal yang merupakan posisi paling dekat antara seorang hamba dan penciptanya, yaitu sujud. Saat sujud, kita meletakkan posisi kepala kita di atas tanah yang biasanya menjadi tempat kaki kita menginjak. Saat sujud, kita menundukkan seluruh anggota badan dan memanjatkan pujian atas keagungan dan kebesaran Allah swt. Bukankah Nabi saw pernah bersabda, “Hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika dia sujud, maka perbanyaklah do’a.”(HR.Muslim). Itulah titik terdekat kita kepada Allah swt. Semua amal ibadah pasti memiliki buah dan manfaat langsung bagi yang melakukannya. Puasa, buahnya adalah kebersihan jiwa. Zakat, buahnya adalah kebersihan harta. Haji, buahnya adalah ampunan dari Allah swt. Jihad, buahnya adalah penyerahan jiwa raga kepada Allah swt yang telah dibeli oleh Allah swt dari umat-Nya dengan bayaran surga. Begitu pula dengan shalat. Buah shalat, seperti diuraikan Ibnul Qoyyim rahimahullah anatar lain, sambutan dan penerimaan Allah swt kepada hamba-Nya yang mendirikan shalat. Itulah sebabnya, Rasulullah saw mengatakan, “Dijadikan kesejukan pandanganku di dalam shalat.” Hadits ini menandakan Rasulullah saw merasakan kesejukan pandangan, kenikmatan jiwa, hanya ketika melakukan shalat. Sama seperti sejuknya mata seseorang memandang pakaian orang yang ia kasihi, dan bergetar perasaan aman dan tenteram, saat telah memasuki wilayah yang dirindukan dan terlindung dari berbagai gangguan. Seperti itulah inti dan ruh shalat. Yakni perasaan seorang hamba menghadap dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah swt. Tmbuhnya rasa fakir dan kebutuhan yang sangat tinggi kepada Allah swt. Itu sebanya orang yang tengah melakukan shalat tidak boleh memalingkan wajah ke selain kiblat dan tidak boleh menyibukkan hatinya kecuali hanya untuk Allah swt.@.

https://twitter.com/MTLovenHoney/status/471245034063265793

 

Related articles :

Al Qur’an dan Integritas diri kita
Kematian itu sungguh dekat

Iklan

Ukir jejak sahabat di sini

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s