Yang Penting Day-to-Day Process.

Eric E Hallett,(49),Ekspatriat asal Washington,USA: ” Suatu ketika saya ingin naik Bis dari Lebak Bulus menuju ke Sudirman. Saya mendapat tempat duduk paling belakang dekat dengan pintu keluar. Dan seperti biasanya, bis di Jakarta selalu penuh dengan penumpang. Lorong tengah bis sudah sangat sesak dengan penumpang. Alhamdulillah, saya saya mendapat tempat duduk di kursi paling belakang dekat pintu keluara masuk.Kemudian, ada seorang anak muda yang berdiri di depan saya, berpegangan pada tiang besi yang ada di dekat pintu belakang bis. Awalnya masih ada jarak dengan anak muda itu, Namun, lama kelamaan, anak muda itu terdesak dan pantatnya terus mendesak ke arah muka saya. Sampai akhirnya, karena tidak kuat berpegang pada tiang besi itu, anak muda itu pun terjatuh duduk di pangkuan saya sambil berkata, “Maaf…., maaf.” Saya jawab, “Ok, it’s oke.” Dalam pikiran saya kalau di Amerika sudah saya marahin anak muda itu, tapi saya harus mencoba beradaptasi dengan orang sini.

Itulah satu pengalaman yang sangat berkesan, mungkin juga lucu bagi orang yang bernama lengkap Eric Edward Hallett, ketika berinteraksi dengan masyarakat Indonesia di Jakarta. Kisah itu adalah satu pelajaran yang sangat berharga bagi Eric, bahwa hidup di tengah-tengah masyarakat yang belum terbiasa dengan sikap disiplin, situasi lalu lintas yang kacau, membutuhkan kesabaran ektra untuk beradaptasi.Eric, hanyalah satu dari sekian banyak Ekspatriat dari Amerika Serikat yang bekerja dan membangun rumah tangga di Indonesia. Aktivitas sehari-harinya adalah konsultan dan trainer di bidang komunikasi, khususnya bidang managerial communcation, seperti keahlian presentasi, negosiasi, dan Bisnis writing.Eric, seorang konsultan bisnis yang kliennya perusahaan-perusahaan luar negeri yang akan melakukan riset pasar di Indonesia. Namun, sejak krisi moneter tempatnya bekerja tidak mampu menahan  hantaman krisis yang sedemikian berat. Namun ia tidak patah semangat, maka dibuatlah lembaga bahasa Inggeris, yang ia beri nama BBE. Better Business English, sebuah lembaga konsultan bahasa dan komunikasi. Secara filosifis, ia menghadapi semua yang terjadi dengan cara pandang positif. Pekerjaan barunya itu membuat ia nyaman. “Akhirnya keasyikan. Tapi, ini bukanlah nasib, tapi survival,” katanya.

Pertama kali datang ke Indonseia pada tahun 1994, dalam rangka memperdalam ilmu dan keahlian (internship) dalam bidang  manajemen selama  empat bulan di sebuah BUMN, di kantor canagnya di Bandung. Di kota itulah ia bertemu dengan Nuning Suliasih Purwaningrum, seorang mahasiswi Universitas Padjadjaran, yang kemudian menjadi isterinya.

Selesai kegiatan internship, sesaat sebelum Eric pulang ke Amerika, sebuah peristiwa besar terjadi. Sebuah bom berkekuatan sangat besar menghancurluluhkan Gedung Federal di Oklahoma, yang menewaskan 160 orangwarga Amerika. Islampun dituding sebagai biang kerok peledakan itu. Tidak tanggung-tanggung, seorang ulama tuna netra. Syekh Omar Abdurrahman didakwa pemerintah Amerika Serikat mendalangi pemboman itu. Situasi itu pun membuat Eric bertanya-tanya kepada Nuning, mengapa Islam selalu dianggap sebagai teroris?

Eric bertanya kepada Nuning, karena Eric melihat Nuning sudah berjilbab. Nuning mengaku susah untuk menjelaskannya ke Eric. Tapi Nuning berprinsip bahwa Eric harus mendapatkan penjelasan yang utuh tentang peristiwa itu. Akhirny Nuning menyarankan untuk membaca buku, “Pirates and Emperor : Terrorism in The Real World” karya Naom Chomsky.

Untuk menjawab kegelisahannya itu, Eric pun membaca buku Chomsky itu. Dan kelihatannya semuanya menjadi jelas bagi Eric.  Akhirnya waktupun membuktikan siapa sesungguhnya yang meledakkan, yaitu Timothy McVeigh, seorang veteran perang Teluk pertama. Kesadaran itu terus melekat dalam benak Eric ketika mengomentari peristiwa 9/11. “Saya melihat bahwa peristiwa itu tidak terkait dengan Islam. Dan saya juga tidak melihat bahwa peristiwa itu terkait dengan isu agama,” kenangnya.
Day-to Day Process
Mulai pada kunjungan kedua, ia pun membina hubungan serius dengan Nuning dan memantapkan dirinya untuk memeluk Islam. Mereka pun menikah pada tahun 1999. Selama di Bandung, ia sangat dekat dengan keluarga Nuning.Melalui keluarganya pula akhirnya ia masuk Islam. Kepada Tarbawi, ia menuturkan kenangannya akan saat itu, bahwa Islam, bagi eric, bukanlah suatu hal yang membuat problem. Sebelumnya ia pun percaya Nabi Muhammad adalah nabi dan utusan Allah. Eric percaya bahwa, “pada agama inilah, jalan yang akhirnyha saya ikuti.”
Sebagian besar mengenal bahwa orang Barat sangat rasional. Karena itu, Nuning pun mengarahkan Eric untuk mempelajari Islam di sebuah lembaga yang sangat getol dengan semangat “pembaharuannya”. Sudah dua tahun ia belajar, tapi Eric tidak menemukan apapun yang bisa memuaskan pencarian menuju kesempurnaan itu. Tampaknya Eric merasa lebih cocok dengan membina sensivitas spiritualnya. Nuning, isterinya, juga merasakan hal yang sama terkait dengan proses belajar di lembaga itu. “Agama selayaknya dirasakan dengan hati, bukan dengan akal. Bukan dengan dirasionalisasi, sebab kalau dirasionalisasi, maka semua agama benar,” kata Nuning. Sementara Eric menegaskan, “itu sebuah pengalaman yang penting bagi saya.”
Meskipun terbiasa dengan gaya hidup Amerika, tampaknya Eric tidak menemukan hambatan dalam kehidupan ber-islamnya.
Begitupun ia mengakui, jika dalam melaksanakan suatu hal yang berbeda dengan apa yang dipahami dari Islam, maka Eric memahaminya secara perlahan-lahan.Ia mencoba untuk selalu menjaga harmoni. “Saya merasa, kita tentu tidak bisa segera menjadi muslim yang sempurna. Segala sesuatunya bertahap. Pendekatan yang lebih baik bagi saya adalah mencari dan menemukan sesuatu, kemudian melaksanakannya sedikit demi sedikit. Saya bukanlah seorang yang sangat dogmatis. Saya belajar Islam sedikit demi sedikit,” begitu ia menjelaskan prinsipnya.
Selama pengalamannya mempelajari Islam, ia selalu yakin dengan prinsip proses. Ia mengaku bahwa dirinya merasakan betapa kehidupan spiritualnya sedang menjalani proses perkembangan dalam hidupnya. Karena itu, dalam menjalani hidupnya sekarang, Eric berusaha untuk tidak terjebak dengan obsesi-obsesi hidup.
Ia menuturkan, bahwa baginya, waktu bukan menjadi faktor yang menentukan. Dalam pikirannya bersikap obsesif tidak direkomnedasikan oleh Islam, jika mengarah pada keinginan dan hasrat yang tidak terkontrol. Ia percaya bahwa Islam adalah jalan yang menolong manusia untuk bisa meredam obsesi yang tidak terkontrol. “Nabi Muhammad mengatakan, jalan tengah itu yang terbaik (Midle road is the best). Saya bukan orang yang sangat obsesif, berusaha sangat keras jika ada keinginan tertentu. Saya lebih suka pada posisi moderat saja. Saya tidak berprinsip I must have it, atau I mus do it. Bagi saya yang penting adalah day-to day process. Dan saya berusaha menerapkannya pada diri saya. Bisa mengendalikan nafsu, bukannya dipenaruhi atau dikendalikan oleh nafsu,” katanya.
Selalu Beradabtasi
Kendali Eric lahir dan tumbuh besar di Amerika, ia sadar bahwa ia tengah hidup dan membangun sebuah keluarga di Indonesia. Ia paham betul, bahwa jika tidak fleksibel dalam mengelola perbedaan kebiasaan, tentu akan menimbulkan persoalan panjang. Oleh karena itu, ia sangat memperhatikan kebiasaan-kebiasaan lokal.
Eric pun mencoba tidak memaksakan penerapan nilai-nilai Amerika ke dalam keluarganya, karena ia tidak ingin sang anak merasa tumbuh dan berkembang di Amerika, padahal mereka hidup di Indonesia. Namun demikian, kadang ia merasakan kesulitan beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan itu. Misalnya makan bersama. Di Amerika, keluarganya biasa makan bersama dalam satu meja, dan tidak lebih dari 30 meneit. Anak-anakpun juga duduk bersama. Tapi Eric menjumpai anaknya makan di waktu yang berbeda, tempat yang berbeda di sekeliling rumah. Namun, Eric sekali lagi merasa ini terjadi di Indonesia, dan baginya hingga saat ini pun ia masih mencoba terus beradabtasi. “Adaptasi itu kan proses. Tapi saya adalah orang yang cukup toleran dengan perbedaan itu, sementara saya melihat sebagian ekspatriat lainnya tidak,”jelasnya.
Eric pun mencoba beradaptasi dengan peraturan keimigrasian di Indonesia yang dirasakannya sangat restriktif. Pada saat yang bersamaan, iapun merasa bahwa ia harus mempunyai cukup materi untuk menjamin masa depan keluarganya kelak. Karena itu, iapun enggan mengubah kewarganegaraannya. Suatu sikap yang juga diambil oleh ekspatriat lainnya yang menikah dengan wanita Indonesia.”Terus terang saya tidak ingin, sebab saya tidak punya cukup (kekayaan) untuk menjamin masa depan saya di Indonesia. Secara ekonomis, Amerika mungkin lebih menjamin masa depan saya dan keluarga saya dibandingkan di Indonesia,” kata Eric.
Wajar jika Eric mengambil sikap demikian. Apalagi status kewarganegaraan ketiga anaknya sebagai warga negara Amerika Serikat. Mmereka tentu akan mendapatkan kesempatan sebasar-besarnya, khususnya dalam hal pendidikan dan pekerjaan di negaranya.
Hingga saat ini, sang isteri, Nuning, berupaya untuk memberikan masukan kepada DPR dan Kementerian Hukum dan HAM terkait dengan perubahan Undang-Undang Keimigrasian, yang bertujuan untuk membantu posisi wanita Indonesia yang menikah dengan warga negara asing. Menurut Nuning, selama ini posisi wanita Indonesia yang menikah dengan orang asing sangat dirugikan. Sistem kewarganegaraan yang dianut Indonesia secara tegas mencabut hak-hak warga negara yang menikah dengan orang luar.”Ketika ijab kabul selesai diucapkan, setahun kemudian, status WNI-nya bisa dihapus. Secara defacto dan de jure.Dan iapun harus lapor ke pihak terkait, jika tidak ingin status WNI-nya hilang,” kata Nuning.
Demikian pula dengan status anaknya. Begitu lahir, Nuningpun “dipaksa”untuk “memberikan”anaknya untuk menjadi warga Amerika Serikat. Buah kasihnya dengan Eric itu diberi nama Cassadra Alifa Hallett(5), Siera Adlina Hallett (2), dan Brenna Khumaira Hallett (10 bln). Nuning pun terus bertekad untuk terus memperjuangkan perubahan UU Keimigrasian, hingga keadilan bisa terwujud bagi wanita Indonesia yang ingin membangun cinta dengan warga negara asing.
Segalanya Ingin Dalam Kontrol Allah
Kadang, sebagai orang asing, ia sering menjadi perhatian banyak orang. Itu sedikit membuat dirinya tidak nyaman. Sebab, “Saya merasa bahwa saya pun orang biasa seperti mereka,” katanya.
Namun, menjalani hidup sebagai muslim bagi Eric adalah anugerah. Hidupnya pun semakin tenang. Ia merasakan betapa tidaknya mempunyai banyak rencana, namun kenyataan yang ia hadapi semua rencana itu mentah. Eric pun merasa bahwa mungkin jalannya tidak dalam rencana itu. Namun demikian, ia menegaskan bahwa memang masih banyak yang harus ia lakukan. Eric pun terus merasa kurang. “Maka saya harus banyak belajar, namun saya masih berharap bahwa ini adalah proses untuk menuju yang lebih baik. Mungkin saya pernah mengerjakan sesuatu yang sifatnya utuh, komplit,. Mungkin ya, saya tidak tahu,” ucapnya mererawang.
Karena itu prinsip hidup yang selalu ia pegang adalah, “Yang terjadi, terjadi saja.” Baginya yang terpenting adalah bekerja, mengenai hasilnya biar Allah yang menentukan. Jika tidak, maka hanya kekecewaan saja yang didapat. “Hidup ini mengalir saja, insyaAllah nanti Allah yang jaga,” harap Eric.
Hari itu, sore tiba-tiba sudah menyapa. Magrib segera tiba. Ada rentang pelajaran hidup yang bisa ditimba. Perbedaan bangsa dan bahasa bukan hambatan dalam mempelajari Islam. Eric benar, bahwa semua manusia membutuhkan proses, dari hari ke hari, dari waktu ke waktu.@

Source: Tarbawi-Edisi Spesial-Rasa, Karya, Cinta dari Muslim berbeda Bangsa

https://twitter.com/MTLovenHoney/status/483568294272565248

https://twitter.com/MTLovenHoney/status/483560101274341376

Back to top

Iklan

Ukir jejak sahabat di sini

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s